Skip to main content

Optimis Indonesia Maju: Refleksi 81 Tahun Kemerdekaan RI

81 tahun sudah Indonesia merdeka. Selama lebih dari delapan dasawarsa, Indonesia telah melalui berbagai rintangan, mulai dari ancaman separatisme, pemberontakan, hiperinflasi, krisis moneter, terorisme, resesi ekonomi, hingga pandemi. Meski demikian, Indonesia masih berdiri teguh sebagai satu bangsa hingga hari ini.

Tentunya ini patut kita syukuri karena ada beberapa negara yang terjerumus menjadi negara gagal, bahkan bubar karena tidak mampu mengatasi persoalan yang mereka hadapi. 

Fakta bahwasanya Indonesia masih terus berkembang hingga hari ini menunjukkan kalau kita bisa bersikap optimis terhadap negara kita. Optimisme bukan berarti kita menutup mata terhadap kekurangan-kekurangan yang ada, melainkan percaya bahwasanya Indonesia pasti akan belajar daripada pengalaman, terus memperbaiki diri,  dan bergerak maju. 

Kalau kita bandingkan Indonesia sekarang dengan masa lampau, maka kita bisa melihat bahwasanya telah terjadi begitu banyak kemajuan yang terjadi di negara ini. 

Lantas, kemajuan apa saja yang telah dicapai Indonesia?

1. Infrastruktur

Pembangunan infrastruktur di Indonesia belakangan ini memang mengalami kemajuan yang begitu pesat. Infrastruktur menjadi penting sebab dengan adanya infrastruktur berarti akan menghasilkan konektivitas antar wilayah. Infrastruktur yang baik adalah infrastruktur yang pembangunannya merata sehingga manfaatnya bisa dirasakan oleh banyak orang.

Saya pribadi termasuk saksi pembangunan infrastruktur dan pernah merasakan manfaatnya secara langsung. Dulu pada tahun 2013, saya pernah dari Cirebon, Jawa Barat menuju Jakarta membutuhkan waktu selama 12 jam karena melalui Jalur Pantura. Ketika tahun 2015, dengan dibukanya Tol Cikopo-Palimanan (Cipali), perjalanan hanya membutuhkan waktu 3 jam.

Begitupun ke Semarang, Jawa Tengah. Pada tahun 2015, Tol Trans-Jawa baru mencapai Pejagan, Brebes, Jawa Tengah. Saya lupa membutuhkan waktu berapa lama, namun yang pasti jauh lebih lama ketimbang tahun 2019 saya berlibur ke Semarang dan Surakarta, ketika Tol Trans-Jawa sudah tersambung hingga ke Kota Probolinggo, Jawa Timur, hanya membutuhkan waktu sekitar 5 jam untuk sampai ke Semarang dan dari Semarang ke Surakarta hanya membutuhkan waktu 2 jam.

Dekat rumah saya, juga ada Tol Cimanggis-Cibitung (Cimaci) yang dibuka secara penuh pada tahun 2024; merupakan bagian daripada jaringan Tol JORR 2. Berkat adanya jalan tol ini, dari rumah saya hingga ke Bandara Internasional Soekarno-Hatta hanya membutuhkan waktu kurang dari 1 jam. Sangat memangkas waktu bila dibandingkan melalui Tol Jagorawi, Tol Dalam Kota, dan Tol Prof. Dr. Ir. Sedyatmo yang biasanya saya lalui sebelum adanya Tol JORR 2.

Tol JORR 2 juga membuat saya tidak perlu lagi melalui Jalan Transyogi yang kian hari kian ramai dan seringkali macet karena tingginya volume arus kendaraan.

Saya pikir sekarang banyak daripada kita yang sudah merasakan manfaat daripada pembangunan jalan tol karena Tol Trans-Jawa sudah tersambung hingga Probolinggo (hanya tersisa Tol Prosiwangi), Tol Trans-Sumatera juga sedang dibangun, dan pulau-pulau lainnya seperti Tol Balikpapan-Samarinda (Balsam), Tol IKN, Tol Manado-Bitung, dsb.

Selain daripada jalan tol, saya juga berkesempatan untuk menjajal Kereta Cepat Whoosh pada awal Januari 2026. Boleh jadi ini adalah infrastruktur yang paling saya banggakan karena bagaimana tidak, perjalanan dari Padalarang menuju Halim dengan kecepatan 350 km/jam hanya membutuhkan waktu selama 36 menit. Kalau melalui jalan tol atau KAJJ, membutuhkan waktu kurang lebih 2,5-3 jam.

Alasan saya mengatakan Whoosh adalah infrastruktur yang paling saya banggakan karena kereta cepat ini ialah yang tercepat di dunia dan satu-satunya di ASEAN dan di belahan bumi selatan. Bahkan, berkat adanya Whoosh ini, banyak pelancong dari mancanegara berkeinginan untuk menjajal kereta peluru ini, tentunya karena saat ini kereta cepat Whoosh hanya satu-satunya di kawasan.

Selain alasan tersebut, alasan lainnya adalah karena saya pernah berandai-andai ketika menjajal kereta cepat di luar negeri untuk pertama kalinya kira-kira 13 tahun yang lalu, andaikata Indonesia mempunyai kereta cepat, pasti akan bagus sekali. 

Hanya berselang 10 tahun, Indonesia akhirnya mempunyai sebuah kereta cepat. Sungguh tidak pernah saya menyangka. Walaupun saya sudah pernah mencoba kereta cepat di negara lain, mencobanya di negeri sendiri tentu ada kebanggaan tersendiri. Kini, hanya tinggal menunggu bisa sampai ke Surabaya, Jawa Timur.

Foto KCIC Whoosh yang saya ambil sendiri di Stasiun Padalarang, Kab. Bandung Barat (6/1/2026).

Berkat kemajuan pembangunan infrastruktur, biaya logistik di Indonesia mengalami penurunan dari 24% (2014) menjadi 14% (2024). Selain itu, perjalanan dan konektivitas antar wilayah akan semakin memadai.

Berbicara tentang infrastruktur, maka satu hal lagi yang tidak boleh dilupakan adalah Ibu Kota Nusantara (IKN). Ketika Presiden Jokowi memutuskan agar ibu kota pindah dari Jakarta ke IKN, saya termasuk yang sangat mendukung keputusan tersebut. Sebab, kapan lagi kita mempunyai ibu kota yang dibangun secara terencana dengan baik? 

Selain itu, dengan adanya ibu kota di Pulau Kalimantan, maka akan menstimulus percepatan pembangunan di sana, khususnya Balikpapan dan Samarinda yang akan berperan sebagai kota satelitnya IKN.

Ibu Kota Nusantara (IKN).

2. Sumber Daya Manusia

Sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni dan berkualitas merupakan kunci untuk kemajuan suatu negara. Dari awal kemerdekaannya hingga di usianya yang ke-81 tahun, dapat dikatakan bahwasanya ada upaya-upaya nyata untuk memajukan SDM Indonesia.

Salah satunya ialah program Keluarga Berencana (KB) Dua Anak Cukup. Presiden Soeharto melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 8 Tahun 1970 membentuk Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) untuk menjalankan program KB 2 Anak Cukup.

Program KB ini dijalankan begitu masif. Sebagaimana data daripada Badan Pusat Statistik (BPS), sebelum adanya program KB 2 Anak Cukup, angka kelahiran total (total fertility rate/TFR) pada tahun 1971 tercatat sebesar 5,61 anak per wanita. Angka TFR ini terus menurun tiap kali sensus penduduk (SP) dilakukan, dengan SP1980 menunjukkan angka TFR sebesar 4,68 anak per wanita, SP1990 menunjukkan angka TFR sebesar 3,33 anak per wanita, SP2000 menunjukkan angka TFR sebesar 2,34 anak per wanita, SP2010 menunjukkan angka TFR sebesar 2,41 anak per wanita, dan SP2020 menunjukkan angka TFR sebesar 2,18 anak per wanita.

Keberhasilan program KB 2 Anak Cukup ini juga diakui oleh dunia internasional. Presiden Soeharto menerima penghargaan Global Statesman Award dari Population Institute, Amerika Serikat pada tahun 1988 dan juga pada tahun 1989, Indonesia mendapatkan penghargaan United Nations Population Award (UNPA) dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). 

Presiden Soeharto (kiri) menerima penghargaan "Global Statesman Award" 1988 dari pimpinan The Population Institute Werness Fornos (kanan) sebagai bentuk pengakuan keberhasilan Indonesia dalam program KB di Istana Merdeka Jakarta, Sabtu (3/12/1988). Sumber: Antara.

Indonesia kembali meraih penghargaan UNPA pada tahun 2022, 33 tahun setelah terakhir kali pernah meraihnya pada tahun 1989. 

Pembangunan SDM juga terjadi di bidang pendidikan, diawali dengan program Pemberantasan Buta Huruf (PBH) yang diluncurkan oleh Presiden Soekarno pada 14 Maret 1948. Dalam waktu kurang dari 20 tahun, tepatnya pada 31 Desember 1964, semua penduduk Indonesia usia 13-45 tahun dinyatakan bebas buta huruf (kecuali Irian Barat). 

Kemudian pada masa Orde Baru, pembangunan pendidikan dilanjutkan melalui program SD Inpres dan Wajib Belajar. Dalam rangka membumikan program tersebut, diciptakan sebuah lagu berjudul “Surat Dari Desa” yang dinyanyikan oleh Ebiet G. Ade pada acara Lomba Cipta Lagu Pembangunan pada tahun 1987.

Program pembangunan SDM terus berlanjut hingga ke pendidikan tinggi, sebagaimana dibentuknya Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) yang menyelenggarakan beasiswa untuk para lulusan S1 untuk melanjutkan studi magister (S2) dan doktoral (S3) baik di dalam negeri dan luar negeri.

Agar pembangunan SDM merata dan bisa dinikmati semua kalangan, diciptakanlah Kartu Indonesia Pintar (KIP), sebuah program bantuan sosial dari pemerintah untuk anak dari keluarga kurang mampu sehingga pendidikannya dapat terjamin hingga SMA. Ada juga program KIP Kuliah untuk menjamin pendidikan hingga perguruan tinggi. 

Presiden Joko Widodo menyerahkan Kartu Indonesia Pintar (KIP) kepada anak-anak sekolah mulai dari tingkat SD hingga SMA di Gorontalo (1/3/2019).

Perbaikan SDM juga diupayakan melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG), sebuah program yang ditargetkan untuk jutaan anak-anak sekolah, ibu hamil, dan ibu menyusui sebagai investasi jangka panjang guna mencegah stunting, juga meningkatkan kecerdasan perkembangan otak anak dari asupan protein yang cukup sehingga generasi masa depan dapat menjadi lebih berkualitas.

Dibentuk juga Sekolah Rakyat, sebuah sekolah berasrama gratis untuk anak-anak dari keluarga desil 1 dan 2. Sudah terbangun 166 Sekolah Rakyat dan pada pertengahan 2026, sudah 45.000 orang yang menikmati program ini.

Selain itu, ada juga Sekolah Garuda sebagai sarana untuk menciptakan talenta-talenta global yang terbaik dan berdaya saing di bidang STEM.

3. Kesehatan 

SDM yang unggul tidak hanya ditentukan dari kualitas pendidikan, namun juga kesehatan. Kesehatan yang baik merupakan landasan untuk melangsungkan kemajuan suatu bangsa. Perkembangan juga terjadi di bidang kesehatan.

Yang pertama ialah Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas). Program ini pertama kali digagas oleh Menteri Kesehatan era Orde Lama yang bernama dr. Johannes Leimena dan baru terealisasi di masa pemerintahan Soeharto pada tahun 1969 oleh Menteri Kesehatan Gerrit Augustinus Siwabessy.

Puskesmas menjadi sarana penting bagi masyarakat, khususnya di pedesaan dan daerah-daerah pelosok untuk dapat menikmati fasilitas pengobatan.

Puskesmas juga didirikan untuk menyatukan berbagai layanan kesehatan seperti BKIA (Balai Kesejahteraan Ibu dan Anak), BP (Balai Pengobatan), dan P4M (Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Menular).

Pada masa Repelita (Rencana Pembangunan Lima Tahun) II (1974-1979), pemerintah berhasil membangun 2.000 puskesmas. Kemudian, pada tahun 1993, puskesmas yang telah dibangun mencapai 6.749 unit. Hingga tahun 2025, BPS mencatat sudah ada 10.300 unit puskesmas tersedia di Indonesia.

Fasilitas kesehatan memang penting, namun yang terlebih penting ialah keterjangkauannya. Sering kali biaya menjadi kekhawatiran sebagian besar orang ketika berobat. 

Oleh sebab itu, diciptakan suatu program cakupan kesehatan semesta (universal health coverage/UHC) bernama Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang diselenggarakan oleh BPJS Kesehatan. 

Berjalannya program JKN ini pun juga cukup panjang. Bermula pada masa pemerintahan Megawati Soekarnoputri, sehari sebelum jabatannya sebagai presiden berakhir, ia mengesahkan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (UU SJSN 2004) pada tanggal 19 Oktober 2004.

UU SJSN menjadi pedoman agar sistem jaminan sosial nasional (jaminan kesehatan, jaminan kecelakaan kerja, jaminan pensiun, jaminan hari tua, dan jaminan kematian) kita dijalankan dengan prinsip-prinsip berikut:

  • Prinsip kegotong-royongan. Prinsip ini diwujudkan dalam mekanisme gotong royong dari peserta yang mampu kepada peserta yang kurang mampu dalam bentuk kepesertaan wajib bagi seluruh rakyat; peserta yang berisiko rendah membantu yang berisiko tinggi; dan peserta yang sehat membantu yang sakit. Melalui prinsip kegotong-royongan ini, jaminan sosial dapat menumbuhkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. 
  • Prinsip nirlaba. Pengelolaan dana amanat tidak dimaksudkan untuk mencari laba (nirlaba) bagi Badan Penyelenggara Jaminan Sosial, akan tetapi tujuan utama penyelenggaraan jaminan sosial adalah untuk memenuhi sebesar-besarnya kepentingan peserta. Dana amanat, hasil pengembangannya, dan surplus anggaran akan dimanfaatkan sebesarbesarnya untuk kepentingan peserta. 
  • Prinsip keterbukaan, kehati-hatian, akuntabilitas, efisiensi dan efektivitas. Prinsip-prinsip manajemen ini diterapkan dan mendasari seluruh kegiatan pengelolaan dana yang berasal dari iuran peserta dan hasil pengembangannya. 
  • Prinsip portabilitas. Jaminan sosial dimaksudkan untuk memberikan jaminan yang berkelanjutan meskipun peserta berpindah pekerjaan atau tempat tinggal dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
  • Prinsip kepesertaan bersifat wajib. Kepesertaan wajib dimaksudkan agar seluruh rakyat menjadi peserta sehingga dapat terlindungi. Meskipun kepesertaan bersifat wajib bagi seluruh rakyat, penerapannya tetap disesuaikan dengan kemampuan ekonomi rakyat dan pemerintah serta kelayakan penyelenggaraan program. Tahapan pertama dimulai dari pekerja di sektor formal, bersamaan dengan itu sektor informal dapat menjadi peserta secara suka rela, sehingga dapat mencakup petani, nelayan, dan mereka yang bekerja secara mandiri, sehingga pada akhirnya Sistem Jaminan Sosial Nasional dapat mencakup seluruh rakyat. 
  • Prinsip dana amanat. Dana yang terkumpul dari iuran peserta merupakan titipan kepada badan-badan penyelenggara untuk dikelola sebaik-baiknya dalam rangka mengoptimalkan dana tersebut untuk kesejahteraan peserta. 
  • Prinsip hasil pengelolaan Dana Jaminan Sosial Nasional dalam Undang-Undang ini adalah hasil berupa dividen dari pemegang saham yang dikembalikan untuk kepentingan peserta jaminan sosial.

Singkat cerita, setelah UU SJSN 2004, terbitlah UU BPJS 2011, dan JKN akhirnya diluncurkan pada tahun 2014. Hingga Juli 2026, BPJS Kesehatan melaporkan 284,6 juta orang atau 98,74%. Hanya dalam waktu singkat, Indonesia telah mencapai cakupan kesehatan semesta, sebuah pencapaian yang harus kita apresiasi. Bahkan, boleh jadi JKN merupakan salah satu cakupan kesehatan semesta terbesar di dunia.

Selain itu, untuk pertama kalinya dalam sejarah, pemerintah meluncurkan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) pada tahun 2025 untuk semua warga terlepas apapun latar belakangnya. 

Program CKG dimanfaatkan dengan antusias oleh masyarakat. Hal ini dibuktikan pada tahun 2025, sudah ada 70.292.151 orang yang memanfaatkan program tersebut (29 Desember 2025). Pada tahun 2026, pemerintah menargetkan 130 juta orang akan memanfaatkan program tersebut dan per 5 Juli 2026, sudah ada 59.561.278 orang yang memanfaatkan program tersebut.

4. Energi

Hal utama yang terbesit dalam pikiran kita ketika berbicara soal energi ialah BBM. Dulu ketika SD, saya pernah mendengar cerita bagaimana BBM di Indonesia diproses. Guru saya menceritakan minyaknya dari Indonesia, lalu diekspor ke Singapura, diolah oleh mereka, lalu hasil olahan tersebut diimpor oleh Indonesia. Mendengar cerita tersebut, pastinya sangat disayangkan, apa iya Indonesia sebagai bangsa yang besar tidak mampu melakukan hal demikian? 

Untungnya hal tersebut tidak berlangsung selamanya. Kini, swasembada energi menjadi prioritas. B50 dari kelapa sawit telah diluncurkan pada 9 Juli 2026. Tentunya, program biodiesel ini telah berlangsung sejak lama sejak dari B2,5 dan tiap masa selalu diperbarui menjadi B10, B20, B30, B35, B40, hingga kini B50, menjadikan Indonesia negara pertama di dunia yang meluncurkan penggunaan B50 secara massal. 

Dari kiri ke kanan: Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani, Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri, Presiden RI Prabowo Subianto, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, dan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto meluncurkan B50 di Cikampek, Jawa Barat (9/7/2026).

Berkat program B50 ini, Indonesia tidak lagi mengimpor BBM Solar. Tentu ini sebuah kebanggaan bagi kita semua.

Tinggal kita menunggu untuk BBM bensin yang sedang dalam pengkajian untuk bioetanol E10 dan E20 yang rencananya akan diluncurkan 1-2 tahun mendatang. Dengan demikian, cita-cita swasembada energi bisa tercapai.

Selain itu, sumber energi untuk listrik juga ada kemajuan, salah satunya adalah PLTS Terapung Cirata, diresmikan pada tahun 2023. PLTS Terapung Cirata merupakan PLTS terapung terbesar di ASEAN dan ketiga di dunia. 

Presiden Joko Widodo meresmikan PLTS Terapung Cirata 192 MWp di Purwakarta, Jawa Barat (9/11/2023).

Program PLTS ini juga dilanjutkan melalui program pembangunan PLTS 100 GW. Ini merupakan upaya nyata Indonesia untuk menurunkan emisi karbon dan mendiversifikasi energi listrik di Indonesia agar tidak selalu bergantung pada batu bara, sehingga energi Indonesia bisa lebih bersih.

PLTS Terapung Cirata, Jawa Barat.

Tidak hanya PLTS, pembangkit listrik yang berasal dari energi bersih dan terbarukan juga datang dari tenaga bayu (angin). Indonesia juga memiliki salah satu PLTB terbesar di ASEAN yaitu PLTB Sidrap di Sulawesi Selatan. Pemerintah telah berencana untuk meningkatkan kapasitas PLTB hingga 7,2 GW pada tahun 2030.

PLTB Sidrap, Sulawesi Selatan.

Selain itu, upaya lain untuk menurunkan emisi karbon ialah dengan mendorong penggunaan kendaraan listrik. Berkat adanya Perpres No. 79 Tahun 2023, penjualan kendaraan listrik bisa meningkat drastis karena insentif yang diberikan oleh pemerintah. 

Di semester I 2026 saja, penjualan kendaraan listrik mencapai 117.000 unit, yang berarti kenaikan sebesar 69,4% secara tahunan.

Saya sudah pernah menulis sebelumnya mengenai bagaimana kendaraan listrik menjadi jurus jitu untuk kemandirian energi nasional. Dalam artikel tersebut, Anda akan melihat betapa pentingnya kendaraan listrik untuk kemajuan pembangunan negara kita.

Program PLTS, PLTB, B50, bioetanol, dan insentif kendaraan listrik bukan hanya berbicara mengenai langit biru, melainkan juga sebagai upaya guna mewujudkan agenda besar swasembada energi agar Indonesia tidak lagi bergantung pada impor energi dari luar negeri.

5. Peran dan Posisi Global

Sebagai bangsa yang besar, Indonesia memiliki posisi yang signifikan di dunia. Bagaimana tidak, Indonesia merupakan negara terbesar keempat di dunia dengan penduduk sebesar 290,1 juta jiwa, negara demokrasi terbesar ketiga di dunia, pendiri ASEAN dan Gerakan Non-Blok, anggota G20, BRICS, dan APEC, serta soft power yang tidak kalah hebat.

Sebagai pendiri ASEAN, Indonesia berperan dalam menjaga keutuhan dan persatuan ASEAN. Sebagai contoh, Indonesia pernah berperan menengahi Kamboja dan Vietnam pada Jakarta Informal Meeting tahun 1988 dan 1989. Pertemuan yang diinisiasikan oleh Indonesia berhasil mendamaikan kedua belah pihak. Hal ini membuat Indonesia tidak hanya dipandang sebagai pendiri ASEAN, melainkan juga sebagai kakak tertua yang selalu ingin agar adanya kerukunan dan kestabilan.

Pengaruh Indonesia di ASEAN sudah barang tentu tidaklah kecil sebab Indonesia merupakan negara terbesar di ASEAN. Kantor Sekretariat ASEAN pun juga terletak di Jakarta. 

Selain itu, Indonesia juga mempelopori transformasi ASEAN melalui pencanangan ASEAN Community pada KTT ASEAN tahun 2003. Transformasi ini bertujuan untuk mengubah ASEAN yang tadinya merupakan komunitas yang longgar menjadi sebuah komunitas yang erat dan utuh. Tidak hanya berbicara mengenai kemajuan ekonomi, melainkan juga politik dan keamanan serta sosial budaya.

KTT ke-9 ASEAN, Bali, Indonesia (7/10/2003).

Akhirnya, tercapailah konsep ASEAN Community dengan berlandaskan tiga pilar; Pilar Politik dan Keamanan, Pilar Ekonomi, dan Pilar Sosial Budaya. 

Negara-negara ASEAN memiliki sistem yang berbeda-beda, ada yang berasaskan demokrasi, ada yang berasaskan rezim militer, ada yang berasaskan sosialisme, ada yang berasaskan sistem satu partai, namun Indonesia mampu membawa semua negara ASEAN untuk bersepakat membentuk ASEAN Community berdasarkan ketiga pilar tersebut.

Kemudian dalam Gerakan Non-Blok, Indonesia juga berperan sebagai pendiri daripada gerakan tersebut. Diawali dengan Konferensi Asia-Afrika di Bandung, Jawa Barat pada tahun 1955. Puluhan negara Asia-Afrika tiba di Bandung merumuskan apa yang dikenal sebagai Dasasila Bandung. 

Konferensi tersebut juga bertujuan untuk mempererat hubungan negara-negara Asia-Afrika dan menentang kolonialisme atau neokolonialisme oleh negara manapun.

Dari kiri ke kanan: PM Jawaharlal Nehru (India), Presiden Kwame Nkrumah (Ghana), Presiden Gamal Abdel Nasser (Mesir), Presiden Soekarno (Indonesia), dan Presiden Josip Broz Tito (Yugoslavia).

Konferensi Asia-Afrika di Bandung juga menghasilkan berdirinya Gerakan Non-Blok (GNB) beberapa tahun kemudian, tepatnya tahun 1961 di Beograd, Yugoslavia (kini Serbia). Organisasi ini didirikan oleh Presiden Soekarno (Indonesia), PM Jawaharlal Nehru (India), Presiden Gamal Abdel Nasser (Mesir), Presiden Josip Broz Tito (Yugoslavia), dan Presiden Kwame Nkrumah (Ghana). 

Organisasi tersebut bertujuan untuk menunjukkan solidaritas dan netralitas dari negara-negara Asia-Afrika yang tidak ingin terjebak dalam geopolitik Perang Dingin pada saat itu. 

Adanya tangan Indonesia dalam proses pembentukan GNB menunjukkan kehebatan diplomasi Indonesia di panggung dunia.

Lalu, dalam G20, Indonesia juga memainkan peran penting. Indonesia mendapatkan kesempatan pertama kalinya untuk menyelenggarakan KTT G20 pada tahun 2022. 

Hal ini merupakan sejarah karena KTT G20 merupakan salah satu KTT terbesar yang pernah diselenggarakan di bumi pertiwi, sebab 20 negara besar yang menguasai 85% PDB dunia, 80% perdagangan dunia, dan mewakili dua per tiga penduduk bumi. 

Indonesia mengusung tema “Recover Together, Recover Stronger”, bertujuan untuk membangun dunia yang lebih inklusif dan melakukan pemulihan bersama pasca pandemi Covid-19.

KTT G20 2022 menjadi tantangan tersendiri bagi Indonesia. Indonesia ingin agar G20 di bawah kepemimpinannya menjadi forum yang mempererat hubungan negara-negara anggota. Namun, baru dua bulan Indonesia menjalani kepemimpinannya, terjadi perang antara Rusia dan Ukraina. 

Hal ini menimbulkan ketegangan di antara negara-negara anggota, khususnya antara Rusia dengan faksi G7. Mereka ingin agar Rusia tidak diundang dalam KTT G20, namun faksi BRICS dan MIKTA dalam G20, terlebih Indonesia menginginkan agar Rusia tetap diundang, bahkan menegaskan G20 sebagai forum ekonomi, bukan geopolitik. Presiden AS Joe Biden mengusulkan jalan tengah kalau sekiranya Rusia diundang, maka seharusnya Ukraina juga perlu diundang.

Indonesia tidak tinggal diam. Saya ingat betul bagaimana Indonesia aktif melobi negara-negara G20 untuk tetap mendukung presidensi Indonesia dan turut menyukseskan KTT G20 2022. 

Waktu itu, Presiden Jokowi datang ke KTT G7 di Jerman atas undangan Kanselir Olaf Scholz. Pertemuan KTT G7 di Jerman membuahkan hasil yang baik bagi Indonesia sebab negara-negara G7 bersepakat untuk datang ke Bali, Indonesia menghadiri KTT G20, walaupun ada perwakilan Rusia. 

Setelahnya, ia bertolak ke Kiev, Ukraina untuk bertemu dengan Presiden Volodymyr Zelenskyy sebagai bentuk kepedulian Indonesia untuk Ukraina. Ia menawarkan diri sebagai pembawa pesan dari Presiden Zelenskyy untuk Presiden Putin. Indonesia menegaskan dukungannya terhadap integritas wilayah Ukraina dan mengundang Presiden Zelenskyy untuk menghadiri KTT G20. 

Lalu, Presiden Jokowi mengunjungi Moskow, Rusia untuk bertemu dengan Presiden Vladimir Putin. Presiden Jokowi menyampaikan pesan dari Presiden Zelenskyy kepada Presiden Putin secara langsung dan menyampaikan kesiapannya sebagai mediator bilamana diperlukan.

KTT G20 berhasil dilaksanakan, walaupun memang tidak semulus sebagaimana KTT-KTT sebelumnya. Adanya ketegangan geopolitik pada saat itu menyebabkan tidak adanya family photo, Presiden Putin tidak hadir (diwakili oleh Menlu Rusia Sergey Lavrov), dan Presiden Zelenskyy hadir secara virtual.

Namun begitu, hal yang tidak diduga terjadi sebab KTT G20 menghasilkan communique, yang mana mengejutkan banyak pihak. Sebab, sebelumnya di pertemuan menteri-menteri G20, hanya mengeluarkan Chair Summary (kecuali pertemuan pertama Menkeu G20 pada pertengahan Februari 2022). 

Keluarnya communique mengejutkan banyak pihak karena untuk menerbitkan hal tersebut, dibutuhkan konsensus atau kesepakatan semua pihak. Di tengah ketegangan geopolitik pada saat itu, ini merupakan prestasi besar Presidensi G20 Indonesia.

Dengan demikian, KTT G20 di Indonesia bisa ditutup dengan sukses.

Presiden Jokowi menyerahkan palu keketuaan G20 kepada PM India Narendra Modi pada penutupan KTT G20 di Bali, Indonesia (16/11/2022).

Kian hari, pengaruh Indonesia di dunia semakin tidak bisa diabaikan. Pada tahun 2025, Indonesia resmi menjadi anggota BRICS. Hal ini menunjukkan bahwasanya Indonesia telah dianggap sejajar dengan negara-negara besar lainnya yang mempunyai kekuatan dan pengaruh yang cukup besar, serta berpotensi menjadi kekuatan baru dunia. 

KTT BRICS 2025 di Rio de Janeiro, Brasil.

Lantas, dalam bidang soft power, Indonesia mempunyai posisi khusus dalam hal tersebut. Salah satunya adalah bahasa. Bahasa Indonesia telah dijadikan sebagai bahasa resmi ke-10 di UNESCO pada tahun 2023. Hal ini membuat Indonesia menjadi negara pertama di ASEAN yang dapat meningkatkan taraf bahasa nasionalnya ke panggung dunia. Dengan demikian, bahasa Indonesia sejajar dengan bahasa Inggris, Prancis, Mandarin, Arab, Spanyol, Rusia, Italia, India, dan Portugis. Tentunya ini sebuah kebanggaan tersendiri bagi kita sebagai orang Indonesia. 

Tidak dapat dinafikan bahwasanya bahasa Indonesia mempunyai pengaruh yang sangat besar. Tidak hanya ia dipelajari oleh beberapa negara, namun lagu-lagu dan film-film Indonesia juga terkenal hingga ke mancanegara seperti Malaysia, Brunei Darussalam, dan Timor Leste. 

Bahasa Indonesia resmi digunakan dalam konferensi umum UNESCO. Sumber: Antara.

Penutup

81 tahun berdirinya Indonesia merupakan hal yang patut disyukuri. Apa yang saya tuliskan hanyalah sedikit banyak dari kemajuan-kemajuan yang telah dicapai oleh Indonesia selama ini. Masih banyak kemajuan-kemajuan lain yang telah dicapai selama 81 tahun berdirinya Republik ini.

Betul memang bahwasanya negara kita masih ada kekurangan di sana-sini. Masih banyak persoalan yang harus dihadapi. Namun, pilihan sikap ada di tangan kita. Apakah kita mau bersikap optimis terhadap negara sendiri, percaya bahwasanya Indonesia mampu menjadi negara yang lebih baik lagi atau bersikap pesimis bahwasanya tidak ada harapan lagi?

Kalau saya pribadi, saya termasuk di kelompok yang optimis. Agaknya keliru kalau kita justru pesimis dan mengutuk negara sendiri, mengatakan negara ini tidak ada lagi harapan. 

Saya percaya ucapan adalah doa. Oleh sebab itu, saya memilih untuk mengucapkan berkat atas negara ini. Saya percaya Indonesia akan lebih baik lagi di masa depan. Saya percaya Indonesia maju itu nyata. Saya percaya Visi Indonesia Emas 2045 bisa terjadi.

Selama kita berdoa bagi bangsa dan negara ini, maka percayalah Tuhan akan memberkati negeri kita.

Dirgahayu Republik Indonesia. Kiranya Tuhan Yang Maha Esa senantiasa memberkati negara kita agar Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur.



Comments

Popular posts from this blog

Dari Masa ke Masa: Rekam Jejak Kepemimpinan Para Ketua Umum Golongan Karya

  Golongan Karya (Golkar) boleh jadi partai politik yang bisa mengklaim dirinya sebagai yang paling unik di Indonesia. Bagaimana tidak, partai ini mempunyai ciri khasnya tersendiri, seperti satu-satunya partai yang berwarna kuning, satu-satunya partai yang telah ada sejak Orde Lama yang membuatnya menjadi partai tertua di Indonesia, satu-satunya partai yang terang-terangan tidak berbasis pada ideologi (selain Pancasila), dan juga satu-satunya partai yang mempunyai begitu banyak jajaran ketua umum. Banyaknya kader Golkar yang pernah menjadi ketua umum merupakan keunikan tersendiri di Indonesia karena masih banyak partai-partai politik di Indonesia yang berbasis pada ketokohan seorang figur (figursentris). Lain halnya dengan Golkar yang justru sering kali mengalami pergantian ketua umum, bahkan per tahun 2026, sudah ada 12 ketua umum sejak berdirinya Golkar pada tanggal 20 Oktober 1964. Hal ini membuat Golkar bukanlah partai yang figursentris, melainkan partai yang memang terbuka dan...

Koalisi Permanen: Strategi Menjaga Kesinambungan Pembangunan Nasional

  Koalisi permanen adalah suatu wacana aliansi partai politik yang mengikat dalam waktu jangka panjang.  Usulan ini pertama kali dikemukakan oleh Ketua Dewan Pembina Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Jeffrey Giovanie pada 1 Maret 2024 dalam kanal YouTube Zulfan Lindan Unpacking Indonesia . Ia mengaku ingin meniru Barisan Nasional di Malaysia dan berharap agar koalisi ini tidak hanya di tingkat nasional, melainkan sampai kepada tingkat daerah. Presiden Prabowo Subianto selaku Ketua Umum Partai Gerindra juga menyatakan keinginannya agar koalisi permanen dapat terwujud pada saat acara silaturahmi Koalisi Indonesia Maju (KIM) di Padepokan Garudayaksa, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, tanggal 14 Februari 2025.  Isu ini sempat redup sampai pada akhir tahun 2025 ketika Golkar menggelar Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) I yang digelar pada tanggal 20 Desember 2025. Hasil rapimnas tersebut mengusulkan agar koalisi permanen ini dapat diwujudkan. Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahada...

Kendaraan Listrik: Jurus Jitu Kemandirian Energi Nasional

Sejak terjadinya Perang Iran 2026, banyak orang mulai sadar akan pentingnya agenda swasembada energi. Bagaimana tidak, penutupan Selat Hormuz oleh Iran menjadikan harga minyak naik begitu tajam di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia. Hal ini tidak lepas daripada fakta bahwasanya Indonesia masih mengimpor BBM. Menurut Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), kemampuan memproduksi minyak kita hanya 605.000 barel per hari, sementara kebutuhan kita adalah 1,6 juta barel per hari. Dengan demikian, kita masih harus mengimpor sebesar 1 juta barel per hari. Implikasi daripada impor BBM ini tentu berdampak negatif pada negara kita sebab Rupiah menjadi melemah karena kita harus beli dengan dolar AS dan kita menjadi tergantung dengan negara lain. Ditambah, impor BBM kita dari Selat Hormuz sebesar 20%. Memang angkanya tidak sebesar negara-negara lain, namun tidak dapat dinafikan dampaknya sudah terasa di sini. Sebagai contoh, harga BBM per bulan Mei 2026 untuk Dexlite (CN 51) s...